Tomboy, jahil, kasar, pemarah, egois dan keras kepala, sikapku yang itu membuatku menjadi sendiri. Tiada teman yang menemani dan sahabat. Dunia bagaikan langit yang hampa. Apa gunanya aku hidup kalau tidak ada seorang pun yang menemaniku saat aku dirundung kesepian, kesedihan dan kesengsaraan. Tidak ada yang bisa aku jadikan sandaran untuk aku mengeluarkan isi hatiku, tidak ada seseorang yang mau menjadi temanku, apa lagi sahabatku. Apa aku harus merubah sikapku? Tapi, bagaimana caranya? Aku butuh someone untuk membimbingku merubah sikapku menjadi lebih baik. Keluarga? Aku benar-benar sendiri, teman taka da dan keluargaku, telah tiada 5 tahun yang lalu. Aku tersiksa tuhan seperti ini. Bantu aku tuhan… Hampir lupa, aku Mei Rahayu, panggilan Rahayu. Beginilah cerita hidupku, tidak ada seseorang yang ada disampingku untuk menemaniku hidup. Tidak ada, Tidak ada.
Tapi, kehidupanku yang dirundung kesepian tidak selamanya. Saat aku sedang sedih dan tidak kuat dengan semua yang aku rasakan, aku selalu ke taman, seorang cewek yang tomboy, menangis ditaman. Yaa, aku menangis ditaman. Aku tidak kuat dengan semua ini. Aku menangis sendiri, tidak ada yang menemani. Sampai tiba-tiba… “Hai.” seseorang menyapa, tepat dibelakangku. Aku menghapus air mata yang turun dan menoleh ke arah suara tadi. Mataku terbelalak, tiada angin tiada hujan. Ada apa ini tuhan? Kenapa dia datang padaku, saat aku sedang sedih? Ada pertanda apa?. “Boleh aku duduk disini?” tanyanya menyadarkanku dari lamunan, sepontan aku pun mengangguk. Ajeng, teman sekelasku tiba-tiba saja datang ke taman ini, duduk disampingku sangat dekat dan menemaniku saat aku sedih. “Ajeng? Ada apa kesini? Kenapa tiba-tiba?” tanyaku to the point. “Rahayu, ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanyanya, “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Ajeng.” ucapku dengan nada tinggi, “Aku ingin menemanimu. Aku ingin menjadi temanmu dan kalau perlu menjadi sahabatmu.” ucapnya membuatku terkejut. “Apa? Apa aku tidak salah dengar?”, dia hanya mengangguk dan tersenyum. “Tapi… Kenapa kamu tiba-tiba begini?” Ajeng tidak menjawab pertanyaanku, dia langsung memelukku dan menangis. Mendengar tangisannya, aku mengelus-elus rambutnya perlahan, “Ada apa denganmu?” Ajeng melepaskan diri dari pelukan itu dan menghapus air matanya. “Aku merasa sama seperti posisimu, aku dijauhi anak-anak. Aku tidak tahu apa kesalahanku. Aku tidak menyangka kamu kuat dengan semua ini, aku.. aku yang baru beberapa hari sudah tidak kuat. Bahkan ada orang tuaku pun, tapi kamu. Kamu anak yang kuat, kamu mampu menjalani semua ini dengan sendiri tanpa bantuan satu orang pun.” ucapnya, “Ajeng, sebenarnya kamu bisa tapi kamu belum mengerti caranya untuk kuat.” ucapku menenangkan, “Maaf kalau ucapku tidak sopan, tapi baru pertama kali ini aku melihatmu menangis. Dan, kamu bisa menangis.” aku meliriknya dengan tatapan tajam, “Ya, kamu benar dan ini kedua kalinya aku menangis setelah orang tua dan kakakku pergi meninggalkanku. Dan, aku tidak menyangka kalau aku bisa menangis.” jelasku, “Sorry, maksudnya meninggalkanmu?” tanya Ajeng, “Mereka sudah pergi meninggalkanku.” aku menghela nafas panjang, “Untuk… selamanya.” lanjutku, “Jadi, kamu?”, “Aku tidak yatim piatu. Karena aku masih punya sanak saudara yang kini tinggal bersamaku.”, “Tapi kan…”, “Ajeng, meskipun mereka bukan keluarga utamaku tapi mereka sudah aku anggap sebagai orang tuaku yang kedua. Mereka adalah teman papa dan mamaku. Sebelum kejadian itu, papa dan mama sudah berpesan kepada mereka kalau papa dan mamaku pergi meninggalkanku untuk selamanya, mereka yang menjadi orang tua kedua. Dan aku harus menyayangi dan menghormati mereka seperti orang tuaku sendiri. Dengan kehadiran mereka, perlahan aku tidak merasa kesepian karena mereka sangat menyayangiku begitu pula dengan kak Bobby, anak mereka. Aku senang memiliki keluarga baru meskipun aku masih sedih kalau teringat tiadanya keluargaku.” tiba-tiba aku mengeluarkan air mata lagi, aku menundukkan kepalaku dan… “Aku yakin kamu cewek yang kuat dan pada nyatanya, kamu memang kuat.” aku langsun memeluk Ajeng, “Thanks ajeng.”, “Sama-sama.” balasnya dan melepaskan pelukan. “Rahayu.”, ucap Ajeng lirih. “Ya?”, “Bagaimana kalau kita bersahabat?” seketika saat Ajeng mengucapkan kata itu, aku kaget dan asli kaget. Kenapa tiba-tiba dia bilang begitu? Bukannya aku tidak mau dan bukannya aneh-aneh, tapi ini sangat tiba-tiba dan mengejutkan. Kemana saja dia selama ini? Kenapa baru sekarang berkata begitu padaku? Ada apa ini?. “Hei! Melamun terus. Gimana?” suara Ajeng menyadarkanku dari berjimbun pertanyaan itu. “Eh…Eh…”, “Rahayu, gimana? Jawab yang pasti, jangan ‘eh…eh…’ aku bingung.”, “Eh… Baiklah. Kita bersahabat.” ucapku walau belum sepenuhnya yakin. Aku entah harus bagaimana? Satu sisi aku membutuhkan seseorang teman bahkan sahabat. Tapi sisi lain masih ada perasaan yang mengganjal. Kenapa tiba-tiba Ajeng mengajakku bersahabat? Apakah ada maksud dari ajakkan itu? Atau…? Sudahlah, aku harus berpikir positif. Jalani saja semua ini dengan enjoy. Mungkin dengan adanya Ajeng sebagai sahabatku, aku bisa lebih baik.
Hari demi hari telah aku jalani dan hari demi hari itu aku jalani dengan Ajeng, sahabatku. Semenjak Ajeng menjadi sahabatku, aku dan dia berangkat sekolah bersama dan pulang pun bersama. Saat hari minggu, kita jogging bersama dan belajar bersama. Ternyata memiliki sahabat sangat menyenangkan. Aku tidak perlu mengeluarkan air mata untuk menangisi kesepianku, karena sekarang ada Ajeng yang mengisi kesepianku.
Pagi ini aku sudah siap ke sekolah. Tapi aneh, sudah jam setengah tujuh Ajeng belum datang ke rumah. Apa dia nggak masuk? Tapi kenapa nggak SMS aku? “Rahayu, sayang! Ayo sarapan. Biar kakakmu yang mengantar kamu ke sekolah. Sudah jam setengah tujuh, nanti telat.” teriakkan mama dari bawah. Aku pun segera turun menuju ruang makan. “Good morning, Rahayu.” sapa papa. “Ini sayang, sudah mama siapkan rotinya.” ucap mama sambil memberikan sebuah piring yang sudah berisikan 2 roti yang lumuri selai strawberry. “Habiskan rotinya, aku tunggu kamu di depan.” ucap kak Bobby dan beranjak dari kursi makannya. “Ma, apa mama tau kenapa Ajeng nggak jemput Rahayu?” tanyaku sambil melahap roti yang diberi oleh mama. “Mama nggak tau. Kenapa memangnya? Apa dia nggak SMS kamu kenapa dia nggak jemput kamu?” balik tanya mama lembut, aku menjawab pertanyaan mama dengan menggelengkan kepala. “Mungkin dia lupa mengabari kamu.”, “Mei Rahayu…!” teriak kak Bobby dari depan rumah. “Kakakmu sudah teriak. Cepet kesana sebelum dia narik kamu paksa.”, aku meneguk segelas susu yang ada disamping piring rotiku. “Pa, ma. Rahayu berangkat dulu.”, “Hati-hati sayang.”. Akhirnya, hari ini aku di antar kakakku.
Sampainya disekolah aku tidak melihat tanda-tanda ada Ajeng. Kemana dia? Apa dia nggak masuk, tapi kenapa dia tidak SMS aku? Ada apa sebenarnya semua ini? Ajeng berubah tiba-tiba.
“Katanya Ajeng masuk rumah sakit. Bener nggak sih?”, “Iya. Dia kemarin jalan sama aku terus dia mau beli minum diseberang jalan. Padahal sebelum nyeberang udah nengok kanan kiri, tapi waktu di tengah jalan dia udah tergeletak dijalan dengan darah dikepala, hidung, sama mulutnya.”, “Tapi, semenjak Ajeng deket sama Rahayu dia pasti celaka. Waktu itu dia pernah bilang kalau orang tuanya bertengkar terus dan kejadian itu terjadi 3 hari setelah dia berteman sama Rahayu. Dan sekarang, dia kecelakaan.”, “Dasar Rahayu, dia pembawa sial banget sih. Tega banget dia sama Ajeng.”. Apa? Ajeng masuk rumah sakit? Kenapa aku sahabatnya bisa nggak tau? Sahabat macam apa aku ini? “Eh, itu anak pembawa sial datang.”. Begitulah anak-anak memanggilku setelah Ajeng tertabrak kemarin malam. Aku tidak menyangka semua ini terjadi. Aku kira dengan Ajeng jadi sahabatku aku bahagia, tapi Ajeng tidak bahagia. Dia tersiksa, hidupnya menderita. Aku nggak tau harus apa.
Sehari disekolah tanpa Ajeng dan dengan celaan dari anak-anak kelas yang semakin membuat hatiku sakit. Aku harus menahan semua ini, percuma kalau aku melawan, tidak ada gunanya.
Sudah jam pulang. Aku pulang lebih cepat, memang sengaja karena aku ingin menjenguk Ajeng. Aku harus minta maaf padanya.
Sesampai di rumah sakit, aku tanya pada suster dimana kamar Ajeng. Setelah dapat informasi dari suster aku langsung ke kamar rawat Ajeng.
“Ajeng?”, “Rahayu? Ada apa kemari?” tanyanya lemah. “Ajeng, maaf. Semua gara-gara aku. Orang tua kamu bertengkar karena kamu jadi temanku dan sekarang kamu terbaring disini.” ucapku dengan penuh penyesalan. “Rahayu, semua ini sudah terjadi. Mau di apa kan lagi? Dan bukan kamu yang membuat keadaan buruk, tapi memang sudah waktunya terjadi.”, “Aku… Aku pembawa sial dalam kehidupanmu.” ucapku hampir menjatuhkan air mata. “Sudah jangan menangis. Aku tidak pernah menganggapmu pembawa sial. Terimakasih sudah datang menjengukku.”
4 bulan sudah terlewati. Ajeng sudah masuk kembali dan dia juga kembali padaku tapi sikapnya berubah setelah kecelakaan itu. Dia bukan Ajeng yang aku kenal dulu. Banyak kejadian yang membuatku menangis setelah dia keluar dari rumah sakit. Dia sering bertengkar denganku dan menyakitiku, tapi aku menahan semua itu. Dan beginilah ceritanya beberapa bulan lalu.
Waktu aku menjenguk dia dirumah sakit, Ajeng ada tamu. Tamunya adalah seorang cowok tampan. Karena aku tidak tau ada tamu, aku masuk ke kamar inap Ajeng. “Ajeng, ini aku bawakan…” ucapku terhenti waktu melihat cowok itu, “Oh ada tamu. Maaf Ajeng aku nggak tau. Aku taruh buahnya disini, ya. Aku pulang dulu.” tiba-tiba langkahku terhenti dan aku merasa tanganku ada yang menahan. Aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menahan tanganku. ‘OMG…! Ngapain ini cowok pegang tanganku.’ tahu kalau tamu cowok Ajeng yang memegang tanganku, spontan aku melepaskan tanganku. “Sorry.” ucapnya. “Ehhm…” deham Ajeng. “Aku pulang dulu, Ajeng.”
Beberapa hari setelah kejadian di rumah sakit, aku nggak berani ke rumah sakit lagi. Tapi, kata mama Ajeng sudah pulang dari rumah sakit. Aku akan ke rumah nya.
“Motor siapa ini? Apa ada tamu dirumah Ajeng. Ahh, lain kali aja kalau gitu jenguk nya.” waktu aku melangkah pulang kerumah, ada seseorang yang memanggilku. Aku pun berbalik dan oh ternyata tante Ria, mama Ajeng. “Rahayu, kok balik? Masuk dulu aja, Ajeng ada didalam kok.”, “Makasih tante, Rahayu pulang aja.”, “Jangan gitu, Ajeng pasti senang sahabatnya menjenguk dia. Ayo! Masuk.”, tante Ria tetap memaksa. “Baiklah, tante. Emmm, tante itu motor siapa?”, “Oh, itu motor Deo.”. ‘Deo? Siapa dia? Apa dia cowok waktu di rumah sakit waktu itu?’. “Deo itu kekasihnya Ajeng. Mereka sejak kecil bersahabat dan semakin remaja mereka ada perasaan lebih dari sahabat. Ya, begitulah anak muda.”. Perkataan tante Ria seolah mengetahui pertanyaanku. Tapi, kenapa Ajeng nggak pernah cerita sama aku kalau dia punya cowok? Ajeng berubah. “Rahayu, tante tinggal ke dapur ya.”, “Baik tante, terimakasih.”. Aku mendekati Ajeng yang sedang bercanda ria dengan cowok yang bernama Deo. “Ajeng.” mendengar suaraku, Ajeng dan Deo menoleh padaku. Down! Ternyata benar, Deo adalah cowok yang waktu di rumah sakit. “Rahayu?” Ajeng berdiri dari sofa dan berlari ke arahku lalu memelukku. “Kemana aja kamu? Aku kangen sama kamu.”, “Maaf aku tidak menjenguk kamu akhir-akhir ini. Aku ada urusan.”, “Oh ya, ini Deo. Deo ini Rahayu sahabatku. Maaf ya Rahayu baru kenalin kamu sama Deo.”, “Iya nggak apa-apa.”. Aku bersalaman dengan Deo. Waktu bersalaman, Deo menatapku dengan tatapan yang beda dan waktu aku melepaskan tangan darinya dia menahan tanganku dan kalau Ajeng tidak berdeham, Deo tidak akan melepaskan tangannya dariku. “Sorry, Ajeng. Aku menganggu kalian. Aku pamit dulu. Permisi.”. Aku masih bingung dengan apa yang barusan terjadi. Kenapa bisa seperti ini? Ada apa ini tuhan? Sudahlah, mungkin hanya perasaanku.
Beberapa minggu setelah aku kerumah Ajeng, Ajeng tidak pernah SMS dan telfon aku dan semua SMS dan telfonku tidak ada yang direspon. Kenapa lagi ini? Apa dia ada masalah? Lebih baik aku tanya dia besok di sekolah.
Dan waktu disekolah, aku menaruh tasku dan tiba-tiba Ajeng menarikku ke taman sekolah. “Ajeng? Ada apa?”, “What? Di saat seperti ini kamu bilang ‘ada apa?’. Sebenarnya kamu tau atau pura-pura nggak tau sih?”, “Ajeng, kamu kenapa sih tiba-tiba berubah. SMS dan telfonku nggak pernah kamu respon. Kamu berubah.”, “Yang berubah itu kamu Rahayu. Semenjak kamu ketemu sama Deo, Deo selalu cuekin aku. Kamu… ahhh! Lupakan.” Ajeng langsung pergi, “Ajeng… Ajeng!!!” tanpa mendengarkan teriakanku. ‘Ada apa ini? Kenapa bisa terjadi seperti ini? Apa salahku?’. Aku menangis di taman sekolah seharian dan tidak mengikuti pelajaran kelas dan tidak ada yang peduli padaku. Aku pun pulang dengan mata membengkak seharian menangis. “Rahayu, kenapa kamu sayang? Habis nangis?” tanya mama khawatir waktu aku tiba dirumah. “Aku nggak apa-apa, ma. Rahayu capek, mau tidur.” ucapku lemah dan langsung ke kamar.
Ke esokkan harinya, aku menjalani hari seperti sedia kala. Tanpa seseorang di sampingku dan Ajeng masih marah dan benci padaku. Kalau begini caranya, kenapa dia tidak memutuskan persahabatan ini? Aku lebih senang kalau semua ini berakhir. Saat aku merenung di kelas, tiba-tiba Ajeng datang. “Ikut aku. Aku mau bicara.”, “Kenapa nggak disini aja?” ucapku tanpa memandangnya. Dengan paksa Ajeng menarik tanganku dan menarikku keluar kelas karena aku tidak menurut padanya. Sampai di belakang sekolah. “Kita nggak usah sahabatan lagi.” ucap Ajeng to the point. Aku sempat kaget dan diam sejenak, tapi aku sudah berusaha untuk menahan itu. “Baik. Aku akan mengawali hari seperti dulu lagi. Tanpa teman, tanpa sahabat dan tanpa seseorang yang ada disampingku.” aku berbicara dengan menahan air mata dan beranjak dari tempatku, “Terserah, kamu butuh atau tidak ini tapi aku cuma bilang terimakasih untuk menjadi sahabat di waktu-waktu lalu.” aku pergi dari tempatku. Kembali ke kelas dan mengambil tasku. Aku ngin pulang dan akan menangis berhari-hari hanya untuk hal ini.
“Pak, saya pusing. Saya izin pulang.”, “Baiklah. Istirahat dirumah, Rahayu.”, “Baik, pak. Permisi.”. Aku keluar dari kelas dan berpapasan dengan Ajeng. Aku berusaha tidak melihatnya dan membuang muka. Aku masih menahan tangisku.
Sampai didepan rumah, air mataku sudah tidak kuat. Aku membuka pintu rumah dengan lemas dan air mata sudah membasahi pipi kanan kiri ku. “Rahayu, Kok cepet pulangnya? Kamu, kamu nangis? Ada apa?” kak Bobby yang duduk di kursi tamu melihatku menangis pulang dari sekolah. “Nggak ada apa-ap…” BRRUKK…
Waktu aku membuka mata, aku sudah ada di kamarku dan kak Bobby ada disampingku. “Aku kenapa kak?”, “Kamu tadi tiba-tiba pingsan waktu aku tanya kamu kenapa dan wajahmu pucat. Aku langsung menggendongmu ke kamar. Papa sama mama belum bisa pulang karena ada meeting, tapi mereka khawatir banget sama kamu.” jelas kak Bobby. “Seharusnya kakak nggak perlu mengabari papa sama mama. Maaf kak, sudah ngerepotin kakak.”, “Ssst, aku ini kakak kamu. Sudah tugasku neglindungimu.” kata-kata kak Bobby membuatku tenang. “Kamu kenapa?” tanya kak Bobby. Aku mencoba bangun dan duduk dengan bantuan kak Bobby. “Aku… Aku tadi putus persahabatan sama Ajeng.”, “Rahayu, ini bukan persahabatan namanya. Dalam persahabatan tidak ada yang namanya putus. Berarti Ajeng bukan sahabat yang baik dan sudahlah kakak lebih senang kamu tidak memiliki sahabat. Karena, kasih sayang dan perhatianmu bisa sepenuhnya ke kakak. Dan kamu bukan adikku aja, kamu temanku, sahabatku dan kamu segalanya bagiku.”, “Kak Bobby…”, “Lebih baik kamu menangis untuk keluargamu dari pada untuk teman atau sahabat yang tidak pernah mengerti kamu.” kak Bobby memelukku, pelukan kasih sayang dari kakak. Pelukan yang hangat dan nyaman.
Kak Bobby benar, mungkin Ajeng bukan sahabat yang baik untukku. Tidak ada nama putus dalam menjalin sebuah hubungan persahabatan. Persahabatan selamanya dan tidak akan pernah putus bagaimana pun cobaan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar